Minggu, 25 Maret 2012

Ayah, Ibu, Jangan Lepaskan Aku Dulu!

Anak pertama kami adalah seorang anak yang pemalu, dulu. Sampai usia 3 tahun, dia nyaris tidak pernah keluar rumah, bermain dengan anak kecil lain sebatas bertemu di depan halaman rumah, atau anak-anak tetangga yang main ke rumah kami. Hal ini terjadi karena anak pertama memang terlihat kurang nyaman dengan suasana ramai dan orang-orang baru, selain keberadaan kami yang berpindah-pindah.


Lewat usia 3 tahun, saya mulai bergabung dengan komunitas Home Schooling (yang sampai akhirnya bubar pun tak sempat diberi nama) karena saya merasa dengan bergabung, HS kami jadi lebih asyik.Ternyata yang saya duga tak sejalan dengan pemikiran si sulung. Ia terlihat sangat kesulitan bergabung dengan anak-anak seusianya, bahkan cenderung menyendiri dan tak mau diajak berkegiatan bersama, padahal saya termasuk orang yang mudah bergaul dan mendapatkan teman.

Hal ini terus terjadi. Setiap kami berkegiatan bersama, anak saya menyendiri, tak mau bergabung, tak mau mengerjakan aktivitas bersama. Tetapi rupanya, ia merekam semua kejadian yang dia lihat. Di rumah, ia berperan seolah-olah sedang melakukan aktivitas HS seperti yang dilakukan teman-temannya pagi hari. Ia berpura-pura menjadi guru, membaca doa, hafalan, dan semua kegiatan rutin kami di komunitas. Rupanya dia sebenarnya menyukainya, tetapi ada hambatan tertentu dalam dirinya yang membuat dia sulit berbaur.

Barulah setelah beberapa bulan kegiatan kami berjalan, anak sulung kami menunjukkan minat untuk bermain bersama. Ia memulainya dengan hanya mau berteman dengan anak tertentu, lalu ia memperluasnya dengan mau bergabung dengan anak yang lain, sampai akhirnya dia mau bermain dengan semua anak di komunitas kami, tetapi masih sulit menerima anak yang baru bergabung ke komunitas kami. Lama-lama, anak sulung kami menjadi anak yang paling 'kenceng' suaranya dan paling aktif.

Semua hal baru bagi seorang anak (dan juga orang dewasa) pada awalnya adalah sesuatu yang sulit. Masalah pergaulan bagi sebagian anak adalah hal yang mudah dan menyenangkan, tetapi bagi anak yang lain hal itu sangat sulit dilakukan. Ada anak yang lebih mudah menerima logika angka dibanding huruf, ada yang sebaliknya. Ada yang lebih bisa menulis dulu dibanding membaca, ada juga yang tak mau menulis, padahal sudah lancar membaca.

Segala hal yang ingin orang tua ajarkan ke anak sering kali juga tak sejalan dengan kemauan dan minat si anak. Dalam kasus saya, saya berharap anak saya segera bisa bergaul dan punya teman, tetapi ternyata ia membutuhkan waktu hampir setahun untuk itu. Demikian pula dengan belajar hal-hal lainnya, perlu ada kejelian dari orang tua tentang minat dan arah si anak, misalnya saja dalam hal belajar menyesuaikan diri dan membedakan hal yang baik maupun tidak baik. Untuk hal semacam ini, dalam pandangan saya, baik anak yang bersekolah maupun HS, memiliki ancaman dan peluang yang sama, permasalahannya adalah pada pencegahan dan penanganannya dari orang tua.

Bersabarlah menikmati hasil, Ayah, Ibu. Bersabarlah menemani buah hati berjalan setapak demi setapak, juga bersiap lari kencang. Bersiaplah menerima antusiasnya juga kelesuan dan ketakbergairahannya. Semua hal melewati proses, apalagi proses belajar. Tuntunlah dengan ilmu, doa, dan kesabaran, oh iya, dan sedikit permainan serta kreativitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar