Rabu, 11 Januari 2012

Dampak Melaksanakan Home Schooling

Segala sesuatu yang saya tuliskan tentang HS terasa indah, tak mungkin sesuatu itu tak memiliki sisi lain selain keindahan. Pada tulisan kali ini saya mencoba merangkum pengalaman pribadi saya berkaitan dengan HS kami. Beberapa dampak yang mungkin timbul jika Anda menjalani HS antara lain:



1. Anda mungkin harus membuka hati lebih luas dibanding telinga. Komentar-komentar akan segera berdatangan. Apalagi yang berkaitan dengan pergaulan, sosialisasi, ijazah :"Kasian banget anaknya nggak disekolahin, nanti nggak punya teman".Atau yang bernada semacam ini: "Kalo suatu saat anaknya minta sekolah gimana?", dan komentar lain yang cukup membuat gemas.

2. Anda harus bekerja ekstra mencari sumber-sumber bacaan yang mendukung keputusan Anda sekeluarga untuk HS.Siapkan jawaban-jawaban yang biasa ditanyakan orang lain, termasuk orang tua. Beranilah untuk mencoba yang tak pernah Anda lakukan. Seorang teman yang sebelumnya sama sekali tak kenal Komputer, menjadi sangat lihai menggunakannya karena ia harus mencari sumber-sumber belajar anaknya. Saya sendiri tadinya menyangka membuat blog itu sulit, karena terdorong ingin menuliskan perjalanan HS kami, maka jadilah blog seadanya ini. Suatu hari anak saya meminta dibuatkan kue cubit. Karena merasa tertantang, saya belajar dari penjualnya, jadilah kue cubit ala kami.

3.Anda mungkin harus sedikit menutup telinga terhadap orang yang terlihat kurang suka. Cukuplah HS Anda didukung oleh pasangan, orang tua, dan saudara kandung. Kalaupun ada di antara mereka yang tidak setuju HS sampai kapan pun, hendaknya tak usah membuka pembicaraan masalah HS dengannya. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan bersama mereka kan? Adik saya seorang guru. Jelas-jelas dia mengatakan di depan saya bahwa bila punya anak nanti, dia tidak akan menjalankan HS. Tidak tau juga alasannya. Tetapi dia tak bisa tidak kagum juga dengan kemampuan anak-anak HS dalam hal kemandirian belajar setelah melihat anak-anak saya serta teman-teman HS nya. Saya tak pernah membahas lagi soal HS dengannya, tapi juga tak membuat hubungan kami renggang.

4.Anda harus rela waktu Anda tercuri. Seringkali pesekolah rumah penasaran terhadap suatu hal yang menarik minatnya sedangkan Anda sedang melakukan hal lain. Pendidikan anak-anak adalah fokus utama, maka pekerjaan rumah yang lainnya seringkali menjadi nomor sekian, untuk urusan ini bisa kita delegasikan kepada asisten, atau membuat sesi gotong royong bagi seluruh anggota keluarga. Saat anak-anak kami mulai terlihat asyik dengan buku-buku, saya meminta lemari besar-tua-lusuh-tak terpakai- milik ayah saya untuk kami gotong ke rumah. Kami membuat taman bacaan kecil. Buku-buku anak-anak dan pengetahuan berada di satu tempat sehingga anak yang berusia 2 tahun pun bisa meraihnya. Lucu sekali melihat mereka bertiga saat larut dalam menikmati buku-buku itu. Saat saya melihat potensi anak ke dua kami dalam hal bercocok tanam, saya meluangkan waktu mengubah tanah kosong-penuh tanah dan puing-becek tak terurus- di samping rumah, menjadi tanah datar dengan rumput yang rapih dan sebuah ayunan dari ban. serta banyak hal lain yang mencuri waktu Anda.

5. Kreatifitas Anda akan terus teruji. Apalagi saat anak-anak mulai bosan dengan ritme belajarnya. Saya menyiapkan banyak peluru: menyimpan banyak kertas (ada dupleks, kertas tik, kertas bekas, karton manila, concord, dan lainnya), cat air, pensil warna, dan alat-alat kerajinan lainnya. Amunisi lainnya adalah menu camilan yang bisa dimasak cepat, aman untuk anak-anak, dan enak, Anda bisa mudah mendapatkannya dari internet. Berkebun juga bisa menjadi variasi lain. Variasi lainnya, menonton DVD,main sepeda, main rumah-rumahan, origami, dan sebagainya.

6. Bersiaplah untuk menghadapi kenyataan bahwa anak Anda unik. Satu bidang yang mampu dilakukan anak orang lain, belum tentu menjadi minat anak Anda. Maka Anda tak perlu memiliki metode, atau materi yang sama dengan pesekolah rumah lain. Anak saya tak suka berhitung dengan angka yang monoton. tetapi ia senang bercerita, dan di dalam cerita itulah dia berhitung. Anak orang lain mungkin lebih suka eksakta, tetapi anak saya sedang mempelajari berbagai bahasa. Pencapaian anak-anak lain adalah prestasi anak tersebut. Anak Anda memiliki keunggulannya sendiri, inilah uniknya HS, lain keluarga, lain cara, lain anak, lain pula kemampuannya. Justru yang membuat para pesekolah rumah ini semakin cinta HS adalah karena mereka bisa mengejar minat dan impian mereka dalam hal yang mereka suka. Kecemasan terhadap kemampuan anak ini biasanya akan muncul saat anak harus menghadapi ujian (telah saya uraikan dalam tulisan "Ujian Menghadapi Ujian".

Sekian dulu hal-hal yang saya temui. Mohon koreksi dan masukan dari Anda semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar