Minggu, 16 Oktober 2011

Proses, Fokus Utama



 Orang tua mana yang tidak ingin melihat anak mereka mencapai prestasi tertentu? Bisa berhitung dengan cepat, berbahasa inggris, juara sains, atau mendapat ranking satu. Sederet ‘prestasi’ mungkin saja diraih oleh seorang anak, lalu ia mendapat banyak pujian, yang kemudian menambah kepercayaan dirinya, dan berakibat dia bisa berprestasi lagi di bidang lainnya.


Tetapi, bagi anak yang minim ‘prestasi’, terkadang hanya mendapat perbandingan dari orang tuanya. “Nggak kayak si Anu, liat dong si Itu” dan perkataan sejenisnya yang intinya berharap agar si anak mengukir ‘prestasi’. Kalaupun tak bisa juara kelas, paling tidak lima besar, delapan besar, sepuluh besar, atau juara cerdas cermat, melukis, dan lainnya.

Apakah dengan mengucapkan secara verbal keinginan orang tua terhadap anak—yaitu agar si anak ber’prestasi’-- membuat sang anak bersemangat memenuhi keinginan orang tua? Sebagian anak bisa demikian. Tetapi, pada dasarnya setiap anak ingin dihargai sebagai diri mereka sendiri. Anak pertama saya, Jita, seringkali melakukan sesuatu dengan caranya yang unik.

Sampai saat ini, Jita selalu mempunyai cara unik dalam melakukan sesuatu. Ia membuatkan lembar belajar untuk Aisyah, adiknya. Dia membuat sendiri cara belajar membaca yang nyaman untuknya, bahkan dia memberi instruksi kepada saya dalam mempelajari beberapa hal. Dia juga menggambar dengan cara yang unik. Ia menggambar ‘rumah’ tidak seperti kebanyakan anak lain menggambarkannya. Ia menggambarkan ‘rumah’ dengan sudut--menggambar perspektif--. Ia menggambarnya dari sudut samping rumah tersebut, seolah-olah rumah itu dilihat dari sudut samping orang yang memandangnya, dan sudah tiga dimensi.

Jita sangat suka menggambar ruang dan interior, seperti kamar, kamar mandi, ruangan yang dipenuhi perabot, dan juga pakaian. Tetapi, saya masih tidak mengerti, bagaimana Jita bisa menggambar perspektif? Saya mencoba melihat-lihat lagi hasil menggambarnya. Hampir semua benda yang digambarnya—mulai dari rumah, tempat tidur, lemari, kursi, dan sebagainya—digambarkan tiga dimensi.

Setelah saya ingat-ingat, saya menduga, ia bisa melakukan itu karena pernah melihat saya menggambar desain lemari. Tiga tahun lalu saya meminta tolong kepada Pak Yono-- tukang kayu langganan kami-- untuk membuatkan lemari buku yang bisa terpisah-pisah, dipindahkan, dan dilipat. Lalu saya menggambarkan desainnya. Untuk memudahkan pemahaman Sang Tukang Kayu, saya menggambarkannya secara tiga dimensi, sehingga hasilnya sesuai dengan yang saya inginkan.

Saat itu usia jita belum 4 tahun, tetapi minatnya pada menggambar memang sudah tumbuh. Saya tak habis pikir, ternyata pengalaman tak terencana itu benar-benar memberi inspirasi baginya. Saat saya mendesain lagi lemari baju dan meja belajar, dia mulai ikut-ikutan membuat desain, saya memujinya tetapi tak menyangka prosesnya ternyata terus berlanjut di kepala Jita.

Tetapi, pernahkah Jita menjadi juara lomba menggambar? Tidak. Suatu kali ia mengirimkan hasil gambarnya ke majalah anak-anak, tetapi sampai beberapa edisi selanjutnya, gambar Jita tak pernah ‘tampil’ di majalah tersebut. Ia lalu kecewa, dan saya mengatakan bahwa gambarnya sudah baik, tetapi mungkin menurut redaksi masih ada gambar lain yang lebih baik, tetap ia kecewa.

Lalu saya tidak pernah lagi berkeinginan mengirimkan gambar-gambar Jita, paling tidak sampai ia mengerti betul bahwa menjadi lebih baik bagi diri sendiri adalah lebih penting daripada menjadi ‘juara’. Saya semakin yakin bahwa fokus utama dalam pendidikan adalah proses, hasil adalah buah dari proses yang panjang, berkesinambungan, disertai contoh/teladan dari pendidik/orang tua.

Seperti malam ini, saya menemukan kertas bekas yang ditempel-tempel menyerupai buku kecil, lalu di halaman sampulnya tertulis ‘Buku I love Flower’. Baru halaman pertama yang sempat ditulis Jita :’Flower is Good’, hmmmm….habis ini saya pikir dulu ya, kapan saya mengajarinya persis seperti itu?

2 komentar:

  1. Waaah Mba jita kerennn,,
    minta ummi buat upload gambar gambar karyanya mba jita dongg,, biar Azzam bisa lihat,,
    tetep semangat ya,,

    Kalo Aisyah sama Bassam lagi suka apa,,,??

    BalasHapus
  2. maunya sih gambar dan hasil karya Jita di foto, terus di unggah, tapi nunggu kameranya dibeli dulu yaaa...he he he...Aisyah ikut-ikutan Jita aja Mbak, kalo Bassam bagian ngerecokin, hih ...

    BalasHapus