Senin, 25 April 2016

Buku dan Proses Kreativitas

Beberapa bulan terakhir rumah kami tak lagi terlau penuh sampah kertas. Kenapa ini, apakah anak-anak ngambek tidak mau lagi bikin-bikin? Hmm...ternyata minat mereka sedang berganti. Saat ini anak pertama sedang suka menulis, yah walaupun masih harus sering membuka-buka kembali buku atau ensiklopedia, tetapi ia terus berusaha menuangkan idenya ke dalam tulisan. Anak ke dua sedang suka menggambar dan melakukan percobaan. Ia sangat ingin gambarnya dimuat di majalah kesayangannya. Sayangnya, walau sudah mencoba beberapa kali, belum sekalipun hasil karyanya dimuat.



Salah satu bagian dari karya Si Sulung


Dulu, saya pikir anak-anak memang memiliki minat di bidang keterampilan, dan kurang suka menulis. Ternyata saat ini kenyataannya berbeda. Bahkan beberapa pekan terakhir ini mereka hampir tidak pernah lagi menghasilkan prakarya ( dalam bentuk fisik seperti mainan, boneka, dan sebagainya). Cara penyimpanan perjalanan mereka pun kini berbeda. Dulu tinggal difoto saja, unggah ke fanpage, selesai. Kali ini, sayang sekali kalau tulisan-tulisan dan gambar mereka hanya disimpan dalam bentuk foto. Alhamdulillaah akhirnya kami memutuskan memiliki mesin scanner untuk menyimpan karya-karya tersebut. 

Bagaimana proses dari semua ini? Tulisan ini bukan ilmu, bukan teori. Ini hanya sepenggal kisah perjalanan belajar kami. Saya mencoba mengingat kembali proses belajar anak-anak sejak awal menjalankan homeschooling hingga kini.  Tentunya pengalaman kami ini belum tentu cocok diterapkan di keluarga Anda, karena masing-masing keluarga memiliki cara sendiri.

Sejak anak-anak kecil, kami selalu memiliki lemari keterampilan. Di dalam lemari itu, saya menyiapkan berbagai jenis kertas, gunting, lem, kain, plester, krayon, pensil warna,dan sebagainya. Lemari tersebut kami letakkan di ruangan yang paling sering menjadi tempat berkegiatan anak-anak. Sebenarnya bukan lemari, hanya laci-laci plastik biasa. Tiap susun diberi nama yang menunjukkan isi laci tersebut, agar mudah meletakkan kembali dan mencarinya. Kami sudah beberapa kali pindah kontrakan, bahkan luar pulau, tetapi kami selalu menyediakan lemari keterampilan ini.

Selain memiliki lemari keterampilan, kami juga menyiapkan satu ruangan minim perabotan, tetapi menyediakan meja-meja kecil. Satu anak memiliki satu meja. Kalau dihitung sejak awal membeli meja-meja kecil, sepertinya sudah ada selusin meja kecil yang saya beli (hehehe). Ada yang karena patah, kotor, sengaja ditinggal di kontrakan lama, atau karena sudah tidak muat lagi. Akhirnya, kami membuat satu buah meja panjang yang kami ukur pas dengan posisi anak-anak saat duduk di lantai. Meja tersebut berfungsi sebagai tempat menulis, membaca, membuat keterampilan, makan, bermain, dan kegiatan lainnya.

Tak hanya menyiapkan lemari, ruangan dan meja, sebagai orang tua, kami juga berusaha mendampingi anak-anak dalam belajar atau mengerjakan proyek mereka. Menunjukkan mereka referensi yang tepat dalam mencari informasi, mendengarkan ide-ide, menjadi tes pasar 'produk', atau sekedar menemani mereka sampai proyek selesai. Dari mana ide-ide tersebut muncul? Buku! Ya, belilah buku, bacakan, dan temani anak-anak membaca buku. Pada awalnya memang haruslah saya atau suami saya yang membacakan buku. Hal tersebut berlangsung sampai Si Sulung mulai lancar membaca. Selanjutnya mereka menyukai membaca, mulai asyik dalam buku, dan akhirnya mendapatkan ide melakukan proyek tertentu. Saat anak-anak sudah terbiasa dengan buku, kami mulai memperkenalkan mesin pencarian di internet.

Proses kreativitas mereka diawali dari melihat. Mereka melihat saya membuatkan sesuatu dari kotak susu, kertas origami, koran dan kardus bekas, dan lain-lain. Kemudian timbullah keinginan untuk meniru. Mulailah mereka meniru dari buku. Satu proyek sederhana, misalnya membuat topeng binatang, bisa memakan waktu cukup lama, bahkan kadang saya sampai meninggalkan pekerjaan rumah tangga. Tetapi ini sebuah pintu, ya, dimulai dari meniru.

Setelah terbiasa meniru, barulah timbul keinginan dari mereka untuk membuat sesuatu hasil modifikasi dari yang sudah ada di buku. Mereka mulai tidak terlalu melakukan langkah-langkah yang sama persis dengan buku, mulai berpikir menciptakan variasai. Misalnya saja membuat boneka kertas. Si Sulung saat itu mencoba membuat boneka kertas yang bisa dimain-mainkan rambutnya, atau kreasi tas, sandal, dan lain-lain, yang berbeda dari contoh yang ia lihat.

Menginjak usia 8/9 tahun anak pertama dan kedua mulai berpikir untuk 'menciptakan'sendiri kreasi mereka. Biasanya mereka akan "presentasi" dulu rencana mereka, mengumpulkan bahan, dan mulai merencanakan eksekusi proyek. Semuanya sudah bisa dikerjakan sendiri tanpa bantuan (sampai usia 6/7 tahun masih saya awasi). Hasil karya mereka masih seputar kesenangan, permainan, dan kebutuhan sederhana, seperti rumah boneka, tempat menyimpan alat tulis, baju boneka, tempat menyimpan kertas, dan sebagainya.

Sekarang, memasuki tahun ke dua belas hidupnya, Si Sulung mulai berpikir sebuah proyek yang tidak hanya memuaskan dirinya, tetapi juga punya manfaat lebih banyak. Salah satu proyek yang pernah dikerjakannya adalah patroli kucing liar. Saat ini, fokusnya kepada isu lingkungan, penghematan air bersih, pemakaian energi dengan bijak, dan pengurangan konsumsi plastik. Ia sedang berpikir untuk mengkampanyekan hal ini kepada lebih banyak orang. Sementara anak ke dua masih senang menggambar dan bercerita. Anak ke tiga baru memulai perjalanan belajarnya di usia 6 tahun ini. Semua kegiatan kreativitas tersebut dilakukan di luar jadwal belajar wajib kami.


Kami bersyukur kepada Allah, yang telah mengijinkan kami memiliki berbagai macam buku. Pengaruh buku bagi anak-anak kami cukup penting (tentunya buku-buku yang sudah kami pilih). Semoga akan lebih banyak anak Indonesia yang mencintai buku.




 


2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Maasya Allah.. Sangat menginspirasi postingan yg ini..

    BalasHapus