Senin, 03 Juni 2013

Homeschooling: Belajar Tanpa Ujian

Semakin hari, kami merasa belajar dan menjalankan kehidupan sehari-hari seperti sulit dibedakan. Anak-anak heran, akhir-akhir ini kami jarang belajar di meja.Kami memang sudah cukup lama menjauh dari materi pelajaran. Bagaimana tidak, si sulung sibuk dengan rencana kriya nya setiap hari. Anak ke dua sedang antusias memasak, apalagi setelah adik kecil ketagihan nasi goreng buatannya, semakin senang dia di dapur.Walaupun demikian, menu wajib hafalan dan membaca qur an tak boleh lewat.

Saya dan beberapa teman sempat secara rutin mengadakan ujian tertulis untuk anak-anak. Lucu, anak-anak tidak mau menjawab pertanyaan yang mereka tidak tau, mereka tidak mau asal menjawab, padahal itu soal pilihan ganda. Lucu juga, saat ada pertanyaan: Saat bermain bersama adik, sikapmu adalah.....Anak saya menjawab dengan polos:tidak mau berbagi, dia menjawab sesuai dengan yang dia praktekkan. Saya hanya tersenyum



Mulai semester lalu, saya sudah semakin cuek dengan ujian, ujian tengah semester, akhir semester. Saya merasa, ujian tertulis semacam itu tidak cukup menilai seluruh materi yg telah kami jalani bersama. Lalu, bagaimana orang tua mengukur keberhasilan proses belajar mereka? 

Bagi saya, penilaian proses belajar ada dalam wujud perilaku, karena buah dari ilmu adalah amal. Saat anak-anak dengan sadar membuang sampah di tempat sampah, berarti ia telah memahami nilai disiplin, kebersihan, dan sebagainya. Hal sama berlaku juga untuk orang tua. Saya pernah tersentil, saat anak-anak mengusulkan membuat tempat pembuangan kaleng bekas. Bahkan saya tak berniat membuatnya sama sekali. Jadilah sebuah dus bekas tempat menampung kaleng bekas yang sudah dicuci, bersanding dengan tempat sampah khusus kertas, daun, plastik.

Bagaimana menilai materi-materi lain? Berikanlah suasana yang mendukung kemampuan mereka, bukan dengan gaya ujian lisan, seperti : "Kak, coba sebutkan ibukota Jepang!" Mungkin lebih baik bercerita, Kak, di Jepang ada kereta yang cepat sekali, namanya...dan seterusnya.

Tak bisa saya ingkari, kadangkala saya pun tergoda ingin mengetahui sejauh mana perkembangan anak-anak selama ini. Hal yang membuat tenang adalah banyak mendoakan, dan mengingat kecerdasan dan kemampuan anak di usia emasnya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar